Hati-hati Dengan Preeklampsia

No comment 1719 views

Preeklampsia-580x400

Preeklampsia adalah tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan kelebihan kadar protein dalam urin (proteinuria). Preeklampsia terjadi akibat adanya kenaikan tekanan sistolik sebesar 30 mm Hg atau mencapai 140 mm Hg. Preeklamsia diakibatkan juga karena penimbunan cairan secara berlebihan dalam tubuh. Biasanya hal ini dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka.

Selain itu, ibu hamil yang menderita preeklampsia akan merasakan gejala seperti pusing dan mata berkunang-kunang. Kenaikan berat badan sebesar 1 Kg dalam seminggu beberapa kali bisa tanda preeklampsia.

Preeklamsia ketika hamil dapat menimbulkan masalah untuk ibu hamil dan janinnya. Untuk si Ibu hamil, preeklampsia dapat mencakup kerusakan ginjal, stroke, atau sakit kepala. Sedangkan untuk janin, preeklampsia pada calon ibu dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah ke plasenta. Ketika ibu hamil menderita preeklampsia, maka pembuluh darah si ibu akan mengerut. Apabila hal itu sudah terjadi, janin yang lahir berukuran lebih kecil. Selain itu, bisa terjadi keterlambatan pertumbuhan intrauterin (IUGR).

Preekalmpsia ini kebanyakan akan diderita oleh ibu dengan usia yang beresiko tinggi bagi kehamilan, yaitu hamil pada usi 40 tahun ke atas. Pada kondisi hamil, tekanan darah ibu hamil seharusnya normal atau justru lebih rendah. Mengapa? Ketika seorang wanita sedang hamil, maka tubuhnya secara otomatis akan mengencerkan dan menambah volume darahnya. Kegunaannya adalah agar bisa lebih banyak mengalirkan oksigen dan sari makanan ke janin. Selain itu, penambahan volume darah juga sebagai persiapan untuk proses melahirkan. Hal ini dikarenakan ibu hamil akan mengeluarkan banyak darah saat melahirkan.

Cara terbaik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap preeklampsia adalah dengan melakukan kontrol kehamilan secara teratur. Selama 9 bulan mengandung, minimal kontrol kehamilan 4 kali. Satu kali di trimester pertama untuk memastikan adanya kehamilan, satu kali di trimester kedua, dan dua kali di trimester ketiga.

Selain melakukan kontrol kehamilan secara teratur, berat badan diupayakan naik 1-2 kg/bulan, cukup olahraga, cukup istirahat dan makan dengan gizi seimbang dapat membantu ibu hamil terhindar dari preeklampsia.

Seorang ibu hamil yang telah terdeteksi preeklampsia harus mengurangi asupan garam, mengurangi makanan berlemak, istirahat cukup, dan minum obat resep dokter yang aman untuk janin. Hal ini untuk memastikan bayi bisa dilahirkan sampai usia yang cukup. Oleh karena itu, ibu hamil harus pintar-pintar menghindari hal-hal yang menyebabkan preeklampsia.

author
No Response

Leave a reply "Hati-hati Dengan Preeklampsia"