Cegah Gejala Fimosis Pada Bayi, 5 Hal Ini Yang Harus Dilakukan

Katalogibu – Bunda, pernahkah  Anda mendengar tentang fimosis? Menurut medis, fimosis merupakan gangguan alat kelamin pada laki-laki, dimana terjadi perlekatan antara kutup (preputium) dengan kepala kelamin (glans). Sebenarnya fimosis bukanlah hal yang berbahaya. Umumnya fimosis pada bayi terjadi pada bayi laki-laki. Biasanya gangguan ini muncul ketika anak usia 5-6 tahun. Dan akan kembali normal apabila posisi kulup kembali dan terlepas dari kepala kelamin.

Meski demikian, dalam beberapa kasus gejala fimosis pada bayi terdapat anak yang mengidap fimosi hingga usianya lebih dari 10 tahun. Kondisi ini tentunya harus diperhatikan, sebab fimosis yang berkepanjangan dapat memicu beragama risiko seperti munculnya rasa nyeri, iritasi, rasa sakit saat buang air kecil dan dapat meingkatkan risiko terjadinya iritasi (seperti balanitis). Maka dari itu, kelainan fimosis haruslah diatasi sejak dini. Nah, berikut ini beberapa cara penanganan fimosis pada bayi yang wajib Bunda ketahui!

  1. Pastikan Memiliki Merk Diapers Berkualitas

Biasanya bayi rentan mengalami ruam kemerahan di area kelamin dikarenakan penggunaan popok diapers yang kurang tepat, inilah yang menjadikan fimosis semakin parah karena iritasi pada kelamin. Gunakanlah popok yang aman dan berkualitas serta praktis dan cocok digunakan saat berpergian.

  1. Menjaga Kebersihan Area Kelamin Bayi

Bunda perlu mengecek kondisi popok sesering mungkin. Apabila anak mulai rewel dan menangis, coba lihat apakah ia kencing atau bab di celana. Jika iya, maka segeralah mengganti popoknya.

  1. Sirkumsisi (sunat)

Sirkumsisi atau lebih umum dikenal sebagai sunat adalah salah satu metode yang paling sering dianjurkan untuk mengatasi kelainan fimosis. Teknik sirkmumsi tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Melainkan harus tenaga professional seperti dokter untuk menjamin keamanannya.

  1. Preputioplasty

Selain sunat terdapat metode lain untuk mengatasi kelainan fimosis pada bayi, yaitu dengan teknik preputioplasty. Pada teknik ini tidak dilakukan dengan cara pemotongan. Melainkan hanya memperlebar bagian kulit preputilium (kulup) yang menempel dikepala kelamin. Sehingga nantinya keduanya bisa terpisah. Namun, metode ini tidak seefektif sirkumsisi. Teknik preputioplasty memicu efek samping rasa nyeri. Selain itu, juga tak ada jaminan kelainan ini bisa hilang betul. Ada kemunngkinan fimosis akan kambuh lagi.

  1. Pemberian obat-obatan

Jika memang semua tak berhasil maka dokter akan memberikan jenis obat-obatan tertentu bergantung penyebabnya. Tetapi, pada umumnya salep atau krim steroid tipikal. Selain itu, jika fimosis pada bayi disebabkan infeksi bakteri maka dokter akan menambahkan resep obat antibiotik.

Dari informasi di atas moms tidak boleh sepelekan gejala fimosis pada bayi, sebab kondisi tersebut dapat berdampak lebih parah jika tidak ditangani. Demikianlah penjelasan menganai penanganan fimosis pada bayi. Semoga bermanfaat ya.

author
No Response

Leave a reply "Cegah Gejala Fimosis Pada Bayi, 5 Hal Ini Yang Harus Dilakukan"