Cegah Wabah Difteri, Cari Tahu Beda Vaksin Difteri dan Dewasa

Difteri merupakan penyakit berbahaya yang menular lewat udara melalui percikan ludah dari batuk penderita hingga benda maupun makanan yang terkontaminasi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Setelah masuk ke dalam tubuh, toksin yang dibawa bakteri akan menyebar melalui darah dan merusak jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan syaraf, hingga berujung kematian. Bakteri tersebut juga menyerang saluran napas sebelah atas penderita yang nantinya menunjukkan gejala demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan bernapas.

Tingkat keparahan penyakit difteri menyebabkan penanganan yang istimewa pula, Moms, sehingga satu kasus difteri saja yang ditemukan akan direspon Pemerintah dengan mengumumkan Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Statistik Kementerian Kesehatan menunjukkan wabah difteri mencapai puncaknya pada tahun 2012 dan telah menurun meski tidak hilang sama sekali. Difteri merupakan penyakit lama yang telah ditanggulangi dengan vaksinasi sejak dini. Beda vaksin difteri anak dan dewasa juga mempengaruhi pola persebaran penyakit karena difteri harusnya bisa dicegah sepenuhnya apabila seluruh anak mendapatkan vaksinasi lengkap.

Hingga saat ini, 38 anak Indonesia dinyatakan meninggal karena terserang penyakit difteri dan lebih 600 anak dirawat di rumah sakit karena terserang difteri di 120 kota/kabupaten. Kasus difteri yang mewabah luas di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, misalnya, disebabkan salah satunya oleh merebaknya pandangan antivaksin di kalangan orangtua dan kelompok agama. Meski telah keluar klarifikasi MUI mengenai status halal vaksin, banyak kalangan Islam yang percaya bahwa vaksin itu haram. Kelompok tertentu dengan gaya hidup herbal bahkan secara bangga menyatakan antivaksin sehingga pandangan tersebut meluas ke masyarakat umum.

Faktanya, kasus difteri yang telah memasuki wilayah KLB saat ini hanya bisa diputus rantai penularannya lewat Outbreak Respon Imunisasi (ORI) segera. Pemberian vaksin ulang akan dilakukan pada anak-anak mulai usia balita pada wilayah KLB atau ditemukannya kasus difteri, minimal 1 wilayah puskesmas atau kecamatan, dan wilayah sekitar yang beresiko berdasarkan kajian epidemiologi. Pemberian ORI dilakukan pada semua anak usia 1 hingga 19 tahun tanpa melihat riwayat imunisasi DPT sebelumnya maupun tanpa menunggu hasil laboratorium. Pelaksanaan vaksinasi ulang nantinya akan disesuaikan dengan beda vaksin anak dan dewasa.

Anak usia 1 hingga 5 tahun akan mendapatkan vaksin Pentabio produksi Bio Farma yang berisi kombinasi 5 macam vaksin, yaitu DTwP/DTaP-Hb-HiB. Anak usia 5 hingga 7 tahun selanjutnya akan mendapatkan vaksin DT yang berisi DtaP, sedangkan anak usia 7 tahun mendapatkan vaksin Td yang berisi Tdap. Selain itu, program vaksinasi ulang kali ini juga meningkatkan cakupan imunisasi dasar menggunakan Pentabio produksi Bio Farma yang berisi DTwP/DTaP-Hb-HiB atau DPT tunggal yang berisiri DTwP/DtaP.

Nah, Moms, vaksin difteri untuk orang dewasa, sebaliknya, memiliki jenis yang berbeda dengan vaksin difteri untuk anak. Beda vaksin anak dan dewasa ialah vaksin difteri dewasa menggunakan vaksin Td/Tdap, misalnya BOOSTRIX®, yaitu vaksin DPT dengan reduksi antigen dan pertusis. Dalam vaksin Tdap menggunakan komponen pertusis aseluler, yaitu bakteri pertusis yang dibuat menjadi tidak aktif, sehingga jarang menyebabkan demam. Vaksin tersebut nantinya diberikan beberapa kali sejak usia 2-18 tahun, yaitu pada 5, 10-12 dan 18 tahun. Agar lebih efektif, Moms, vaksin yang dibuat dari bakteri mati tersebut sebaiknya diberikan setiap 10 tahun sekali pada seumur hidup.

author
No Response

Leave a reply "Cegah Wabah Difteri, Cari Tahu Beda Vaksin Difteri dan Dewasa"