D-Mer; Penyebab di Balik Depresi Saat Menyusui

Gejala Baby Blues serta Post-Partum Depression pastinya terasa familiar bagi Anda. Kedua sindrom tersebut adalah spektrum depresi yang dialami oleh seorang ibu pasca melahirkan. Dengan penanganan yang tanggap dan benar, baik Baby Blues maupun PPD akan mereda dan ibu dapat kembali merasakan nikmatnya membesarkan bayi tercintanya. Namun ternyata, saat menyusui pun ada kalanya ibu mendadak merasakan dysphoria, atau kesedihan yang luar biasa yang bahkan Anda susah menjelaskan dengan kata-kata. Kesedihan yang luar depresi atau depresi saat menyusui tersebut dalam dunia kedokteran disebut dengan Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-Mer).

D-Mer adalah suatu kondisi medis yang menyebabkan seorang ibu yang sedang dalam menyusui mengalami perubahan mood drastis dan menunjukkan emosi negatif yang beragam. Bergantung dari spektrum dan intensitasnya, penderita D-Mer biasanya akan merasakan emosi negatif seperti kesedihan atau anxiety yang luar biasa, hingga amarah. Namun perubahan mood tersebut cenderung tidak berlangsung dalam waktu lama. Bisa jadi dalam hitungan menit, mood ibu membaik dan kemudian kembali menurun. Bergantung penanganan, rasa sedih tersebut juga tidak selalu berubah menjadi depresi saat menyusui.

Banyak orang yang menganggap bahwa D-Mer menyangkut masalah psikologis ibu yang mengalami pengalaman tidak mengenakkan selama menyusui. The truth is, D-Mer lebih condong ke masalah ketidakseimbangan hormon. Seorang ibu masih bisa merasakan gejala D-Mer bahkan ketika beliau memikirkan hal lainnya selama menyusui. D-Mer biasanya terjadi beberapa menit sebelum refleks keluarnya ASI muncul.

Saat itu, produksi hormon oksitoksin dalam tubuh meningkat, fungsi peningkatan hormon oksitoksin tersebut adalah untuk merangsang keluarnya ASI. Namun di saat yang sama terjadi ketidakseimbangan, yaitu menurunnya hormon dopamine, yaitu hormon yang bertanggung jawab dalam menjaga kestabilan emosi. Menurunnya hormon dopamine tersebutlah yang menyebabkan ibu mengalami gelombang kesedihan serta rasa frustrasi yang seringkali muncul tanpa sebab. Emosi negatif yang dirasakan oleh ibu menyusui hanyalah DAMPAK dan bukan penyebab utama dari D-Mer. Itulah yang membedakan D-Mer dari breastfeeding aversion atau sikap menghindar ibu dari menyusui yang dialami oleh beberapa ibu. Dan berbeda dari sifat menghindar dari ibu menyusui tersebut, segala emosi yang dirasakan oleh seorang ibu dengan D-Mer berada di luar kontrolnya.

Tindakan pengobatan bagi ibu yang mengalami D-Mer cukup beragam. Bagi pengidap D-Mer tingkat rendah dan sedang, biasanya dokter akan meminta Anda mengidentifikasi hal-hal apa saja yang memperparah emosi negatif tersebut, serta hal apa saja yang membantu meringankan gejala D-Mer. Bagi pengidap D-Mer kelas berat, dokter akan memberikan obat-obatan yang dapat membantu meningkatkan produksi hormon dopamine di dalam tubuh.

Dan yang paling penting dalam mengatasi depresi saat menyusui adalah support dari suami serta keluarga terdekat.

author
No Response

Leave a reply "D-Mer; Penyebab di Balik Depresi Saat Menyusui"