Parenthood 101: Tips Mencegah Tantrum pada Anak

Disebut sebagai temper tantrum dalam ilmu Psikologi, tantrum merupakan suatu perilaku yang normal terjadi pada anak usia pra-sekolah. Balita usia 2 hingga 3 tahun biasanya masih memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbahasa dan menyampaikan perasaan kepada orang di sekitarnya. Selain melatihnya keterampilan berkomunikasi, tips mencegah tantrum pada anak juga dapat Moms pelajari untuk menanamkan kedisiplinan pada anak.
Sebagai orangtua, mengalami masalah dan konflik dengan anak tentu tak bisa dihindarkan sepenuhnya. Salah satu tips mencegah tantrum pada anak ialah dengan mengetahui hal-hal apa saja yang dapat memicu konflik dan menyebabkan anak meledak marah. Sebelum Anda ikut-ikutan emosional, Moms harus memahami bahwa perilaku tantrum pada anak berupa berteriak, menendang, memukul, hingga melempar barang-barang hanyalah cara si kecil untuk mengekspresikan kekesalan dan frustrasi yang dirasakannya.
Tips mencegah tantrum pada anak yang terpenting ialah dengan tetap bersikap tenang. Anda bisa menjauh sejenak untuk menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosi Anda agar tak ikut serta meluap. Begitu anak menunjukkan perilaku tantrum, Moms sebaiknya memberikan anak ruang dan kesempatan untuk meluapkan emosinya. Memberikan ruangan khusus dalam rumah atau mengajaknya menepi saat berada di ruang publik merupakan hal terbijak yang bisa Anda lakukan saat menghadapi tantrum pada anak. Tentu saja, Anda sebaiknya tidak pergi jauh-jauh dan tetap mengawasi si kecil. Pastikan bahwa anak tetap aman dengan menjauhkannya dari benda-benda yang membahayakan, terutama ketika anak tantrum dengan cara memukul-mukul atau berguling-guling di lantai.
Alih-alih marah, Moms sebaiknya menunjukkan empati kepada anak saat tantrum. Hindari mengekang si kecil untuk meluapkan emosi, apalagi hingga bertindak abusif seperti mencubit atau memukul. Jangan membuatnya merasa malu dengan memarahi dan membentaknya di depan umum atau anggota keluarga yang lain. Bangunlah suasana positif dengan menunjukkan empati dan memastikan anak tahu bahwa Anda memahami alasan di balik kekesalannya. Berikan solusi sederhana tanpa mengabaikan si kecil apalagi meremehkan masalah yang dihadapinya. Anda juga bisa memeluk si kecil untuk menunjukkan sikap pengertian Anda terhadap gejala tantrumnya.
Selain masalah dengan teman maupun keluarga, tantrum anak juga bisa disebabkan oleh beberapa kebutuhan fisiknya yang tidak terpenuhi. Rasa capek atau kelaparan tak bisa ditunjukkan anak secara langsung lewat bahasa verbal. Gejala tantrum hanyalah salah satu bahasa tubuh yang dipahami si kecil untuk menunjukkan rasa capek, ngantuk, atau lapar yang dialaminya. Kenali keinginan dan kebutuhan buah hati saat berpegian ya, Moms. Sebagai contoh, Anda bisa menjadwalkan waktu bepergian berdasarkan jadwal makan atau istirahat si kecil.
Apabila anak Anda cenderung menunjukkan gejala tantrum manipulatif, Anda bisa melatih kedisiplinan sambil menahan mengumbar janji berlebihan. Jangan menyogoknya untuk berhenti ngambek dengan menjanjikan suatu hal yang Anda tahu tak mungkin bisa Anda penuhi nantinya. Moms juga bisa memberikan time out begitu anak mulai berperilaku destruktif.

author
No Response

Leave a reply "Parenthood 101: Tips Mencegah Tantrum pada Anak"